Indonesia,
terutama di perkotaan, padat oleh mereka yang doyan main game. Bahkan
Indonesia boleh disebut sebagai ‘Negeri Sejuta Gamer’.
Tanpa mengutip data survei pun sebenarnya kalimat itu bisa diakui sebagai sesuatu yang setidaknya mendekati kenyataan.
Tidak
percaya? Coba tanya kanan-kiri, berapa banyak teman yang pernah secara
rutin mendatangi rental PlayStation atau konsol sejenisnya saat kuliah?
Terutama
bagi mereka yang berkuliah jauh dari kota asalnya, sehingga harus
‘ngekos’, game jadi tempat pelarian populer saat situasi di kampus
sedang suntuk dan mungkin upaya-upaya romansa juga sedang galau.
Lihat
juga berapa banyak teman yang, terutama di masa-masa jayanya, senang
bermain game lewat Facebook. Generasi awal pengguna Facebook paling
tidak pernah mencoba game bertema Vampire yang ‘saling menggigit’ antar
teman.
Lebih
seru lagi kalau memperhatikan mereka yang memakai smartphone. Mulai
dari iPhone sampai Android, kategori aplikasi yang banyak diincar adalah
game.
Melihat
fakta ala kadarnya seperti itu, justru istilah ‘negeri sejuta gamer’
bukan saja cocok bagi Indonesia, malah angka sejuta itu terlihat terlalu
kecil.
Ada
jutaan gamer di Indonesia, mulai dari yang sesekali hingga yang rutin.
Mulai dari yang main game sekadar untuk mengganti waktu bengong hingga
yang menjadikan itu hobi berbuah uang.
Nah,
kalau soal bermain bangsa ini tak perlu diragukan lagi, bagaimana
dengan membuat game? Mampukah negeri sejuta gamer ini juga melahirkan
jutaan game lokal?
Berapa Juta Game Lokal?
Soal kemampuan teknis, mulai dari menyusun program hingga membuat artwork,
seharusnya Indonesia tidak kekurangan sumber daya manusia. Upaya
membuat game lokal pun bukan main-main lagi. Banyak pihak telah
melakukannya di Indonesia, mulai dari yang sekadar iseng hingga yang
mengeluarkan dana miliaran rupiah.
Game
karya anak bangsa tersebar di berbagai sudut. Mulai dari game flash
yang bisa dimainkan lewat browser web, hingga game untuk perangkat
mobile seperti iPhone, iPad atau yang lainnya.
Sedangkan
untuk game ‘kelas berat’, memang agaknya baru sedikit yang terdengar.
Game yang dimaksud di sini adalah game untuk PC maupun konsol sekelas
yang dikeluarkan Electronic Arts, Ubisoft atau yang lainnya.
Meskipun
sudah ada banyak — entah sudah sampai di angka jutaan atau belum — game
buatan Indonesia, harus diakui bahwa belum ada yang boleh dibilang
sepopuler game seperti Angry Birds dkk.
Mencari
ujung dan pangkal masalah itu bisa jadi seperti mencoba menjawab apakah
Ayam atau Telur yang muncul duluan: panjang dan tak memuaskan.
Menggali Kekayaan Lokal
Nah, daripada pusing memikirkan kenapa, mari melihat beberapa sumber inspirasi untuk game yang ada di Indonesia.
1. Sejarah
Sejarah
Indonesia yang panjang tentu bisa jadi inspirasi tema permainan yang
tak ada habisnya. Mulai dari Jaman Kolonial (Portugis, Belanda, Jepang
dll) hingga masa-masa awal pasca kemerdekaan.
Perang
gerilya yang dilancarkan Jenderal Soedirman adalah salah satu contoh
tema yang bisa digarap dan dilahirkan dalam berbagai bentuk game. Mulai
dari yang sederhana ala tower defense hingga yang besar-besaran seperti
Call of Duty.
Membuat
game berdasarkan sejarah pun tak harus mematuhi semua fakta sejarah.
Cukup mengambil saripatinya yang bisa jadi permainan, lalu lahirkan
dalam game yang seru dan menyenangkan.
2. Sejarah Alternatif
Kisah
dari sejarah kemudian bisa dipelintir untuk mendapatkan tema-tema yang
tentunya bisa sangat menarik. Misalnya, bagaimana jika saat dibawa ke
Rengasdengklok, Sukarno – Hatta mengalami kecelakaan fatal dan akhirnya
tak bisa mendeklarasikan kemerdekaan?
Seperti apakah Indonesia ‘alternatif’ itu? Apa yang berbeda. Nah, bagaimana kalau dimasukkan dalam game? Pasti seru kan?
3. Sastra, Legenda dan Dongeng
Indonesia
tak kekurangan karya sastra dan fiksi yang dahsyat. Bukankah itu bisa
jadi inspirasi kisah yang melatari sebuah permainan?
Lihat
saja Polandia yang sukses mengangkat novel The Witcher menjadi sebuah
seri game yang sukses dan membawa rasa bangga pada rakyat dan
pemerintahnya.
Belum lagi kalau bicara soal dongeng dan legenda yang jumlahnya entah berapa banyaknya di seluruh pelosok negeri ini.
Mengangkat
kekayaan dan keragaman lokal dalam game bukan berarti game itu nantinya
hanya bisa dimengerti oleh orang Indonesia saja. Bukankah banyak game
yang saat ini mengangkat budaya ‘asing’ tetap bisa dinikmati oleh
siapapun di seluruh dunia? Mulai dari game bertema kekaisaran romawi
hingga yang berkisah soal penjahat di jalanan New York.
Tantangannya
tetap ada pada bagaimana bisa membuat sebuah produk yang akan memuaskan
pengguna/pemainnya. Dan untuk bisa melakukan itu, faktor pemain harus
dipikirkan sejak awal game dibuat, bukan sekadar ditempelkan di akhir.
0 komentar:
Posting Komentar